Wartawan Tidak Ada Matinya

Oleh:  Aryudi A Razaq

 

Judul di atas tentu saja tidak menunjukkan wartawan anti mati, punya nyawa cadangan, dan sebagainya sehingga bisa terus hidup sepanjang waktu. Wartawan juga manusia, karenanya tetap mengikuti hukum alam sekaligus hukum agama: likulli nafsin dza’iqatul maut (setiap yang bernyawa pasti mati).

 

Wartawan tidak ada matinya, jelas ini kalimat kinayah yang bisa ditafsirkan bahwa semangat wartawan untuk  menulis tak pernah mati sampai kapanpun kecuali ajal tiba.

 

Kalimat wartawan tak ada matinya diungkapkan oleh Ketua DPD Sekber Wartawan Indonesia (SWI) Jember Jawa Timur, Suyono HS, saat memberikan sambutan dalam acara Rakerda I SWI Kabupaten Jember di hotel Aston Jember, Rabu (7/9/2022).

 

Mantan Ketua PWI Jember itu  berkisah, dirinya pernah lama aktif di sejumlah media cetak tapi kemudian vakum karena menekuni profesi lain, yakni dosen di salah satu perguruan tinggi. Kendati sudah menekuni profesi lain namun Mas Yono, sapaan akrabnya, tak pernah benar-benar vakum dari dunia tulis-menulis. Usia yang terus menua dan rambutnya yang nyaris rata memutih, tak membuatnya kehilangan semangat untuk menulis.

 

“Wartawan tidak ada matinya,” ujar Mas Yono.

 

Betul. Semangat wartawan untuk menulis memang tak pernah padam. Bukan semata-mata karena un syai’un alias fulus, tapi karena panggilan jiwa. Jiwa wartawan sejati tak akan pernah tenang jika melihat keadilan hanya jadi barang dagangan.  Jiwa wartawan sejati pasti merasa gundah ketika kebenaran hanya diombang-ambingkan oleh kekuasaan, rakyat kecil diperlakukan sewenang-wenang.  Dari situlah naluri wartawan bangkit untuk bersuara melalui tulisan. Sebab pedang untuk berjuang seorang wartawan adalah pena (tulisan).

 

Wartawan juga manusia, dan karenanya butuh kehidupan yang layak. Namun tidak ada ceritanya kelayakan hidup harus ditukar dengan idealisme yang tertanam dalam diri wartawan. Wartawan adalah pilar keempat demokrasi, tentu demokrasi akan oleng jika idealisme wartawan sudah tergadai. Ketika demokrasi oleng dan kemudian runtuh, tidak ada yang bisa diharapkan dari negeri ini. Sebab yang akan berlaku adalah hukum rimba: siapa yang kuat dia yang berkuasa.

 

Karena itu, semangat wartawan tak boleh mati untuk menjadi corong kebenaran dan  corong keadilan. Usia boleh menua, tapi spirit untuk menulis tak boleh redup. Semangat menulis hanya akan berakhir seiring berpisahnya nyawa dari raga.

 

*) Penulis adalah Penanggungjawab Divisi Diklat dan Pengembangan SDM DPD SWI Kabupaten Jember

 

 

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan