Napak Tilas Perjuangan Kiai As’ad, Agenda Rutin Pramuka UIJ

 

JATIMBERITA.COM | Jember –  Universitas Islam Jember (UIJ) ternyata mempunyai organisasi kepanduan: Praja Muda Karana atau biasa disingkat Pramuka. Namanya keren: Racana KH As’ad Syamsul Arifin (untuk Putra) dan Racana Nyai Zubaidah (untuk putri). Sebagai Unit Kegiatan Mahasiswa, Pramuka UIJ bertugas memberikan pembinaan kepada para mahasiswa UIJ dalam hal kepanduan.

 

Namun di luar itu, Pramuka UIJ setiap tahun melaksanakan napak tilas perjuangan Kiai As’ad, sapaan akrabnya. Napak tilas perjuangan yang cukup heroik itu, start di halaman Pondok Pesantren Raudlatul Ulum, Desa Sumberwringin, Kecamatan Sukowono,  dan berakhir di Dusun Pasar Alas, Desa Garahan Kecamatan Silo Jember. Di lokasi inilah markas serdadu Jepang bertengger.

 

Menurut Ketua Pramuka UIJ, Fery Irawan napak tilas perjuangan  Kiai As’ad penting dilakukan agar generasi muda dapat mengambil teladan dari perjuangan kiai kharismatik itu. Katanya, betapa tidak mudah perjuangan bangsa ini untuk mengusir penjajah. Harta dikorbankan, bahkan nyawa direlakan demi kemerdekaan ibu pertiwi.

 

“Karena itu, dalam napak tilas tersebut kami melibatkan masyarakat, santri dan anak-anak sekolah agar mereka paham bagaimana kiai kita berjuang,” ujar Fery kepada awak media ini di kampus 1 UIJ, Jalan Kiai Mojo Nomor 101 Jember, Sabtu (30/7/2022).

 

Saat itu, lanjut Fery, Kiai As’ad dan rombongan harus menempuh jalan sekitar 60 kilometer, melewati jalan tak biasa, menerabas sungai, naik tebing turun ngarai sebelum akhirnya sampai di markas Jepang. Di jalan, juga tak sepi dari gangguan dan intaian serdadu Jepang. Lengah sedikit, nyawa bisa melayang.

 

“Ya Allah betapa berat perjuangan para kiai dulu. Sekarang kita tinggal menikmati hasilnya,” jelas mahasiswa semester 8 jurusan Bimbingan Konseling FKIP UIJ itu.

 

Yang juga penting diketahui, tambah Fery,  adalah bahwa kemerdekaan ini tak lepas dari peran kiai dan santri. Kiai As’ad hanya contoh kecil dari ratusan bahkan ribuan kiai yang turut berjibaku menumpas penjajah namun namanya tak terendus publik. Mereka berjuang  tanpa pamrih. Hanya satu yang mereka kejar: penjajah harus angkat kaki dari bumi Nusantara agar Indonesia merdeka

 

“Kiai As’ad adalah ulama yang pejuang, dan juga pahlawan nasional. Kita harus terus mengingat jasa-jasanya, lebih-lebih di bulan Agustus ini,” pungkas Fery (Ade Nurwahyudi/Ary).

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan